Inflasi dan Deflasi: Dua Sisi Mata Uang Ekonomi bagi Bisnis Anda

Terakhir ditinjau: Ditinjau oleh CA Loganathan Anandan, FCA · CISA · CDPSE · CFE6 menit baca

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam periode tertentu, sehingga daya beli uang turun. Deflasi adalah kebalikannya: penurunan harga secara umum. Di Indonesia, keduanya diukur Badan Pusat Statistik melalui Indeks Harga Konsumen (IHK), dan Bank Indonesia menjaga inflasi agar berada dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah.

Apa perbedaan inflasi dan deflasi?

Inflasi berarti harga rata-rata naik dan nilai riil uang menurun; deflasi berarti harga rata-rata turun. Kenaikan harga satu atau dua barang saja belum disebut inflasi, kecuali meluas ke barang lain.

Definisi ini mengikuti penjelasan Bank Indonesia tentang inflasi. Inflasi rendah dan stabil umumnya menyertai ekonomi yang sehat; inflasi tinggi menggerus daya beli. Deflasi sesaat karena panen raya menguntungkan konsumen, tetapi deflasi berkepanjangan akibat lemahnya permintaan adalah sinyal bahaya.

AspekInflasiDeflasi
Arah harga umumNaikTurun
Daya beli uangMenurunMeningkat
Penyebab umumPermintaan melebihi pasokan, kenaikan biaya produksi, pelemahan nilai tukarPermintaan melemah, pasokan berlimpah, kebijakan moneter ketat
Perilaku konsumenCenderung membeli lebih awalCenderung menunda pembelian
Risiko bagi bisnisMargin tergerus biaya, tekanan kenaikan upahPenjualan dan harga jual turun, beban utang riil naik
Respons kebijakan moneter yang lazimPengetatan, misalnya kenaikan suku bungaPelonggaran, misalnya penurunan suku bunga

Apa saja jenis dan penyebab inflasi?

Berdasarkan penyebabnya, inflasi dibedakan menjadi inflasi tarikan permintaan, inflasi dorongan biaya, dan inflasi impor. Ekspektasi masyarakat juga dapat memperkuat ketiganya.

  • Inflasi tarikan permintaan (demand-pull): permintaan agregat tumbuh lebih cepat daripada kemampuan ekonomi memproduksi barang dan jasa.
  • Inflasi dorongan biaya (cost-push): biaya produksi naik, misalnya harga energi, bahan baku, atau upah, lalu diteruskan ke harga jual.
  • Inflasi impor (imported inflation): harga barang impor naik karena harga global atau pelemahan rupiah.
  • Ekspektasi inflasi: perkiraan harga terus naik mendorong kenaikan harga dan upah lebih awal.

Bank Indonesia juga membaca inflasi menurut komponennya: inflasi inti, harga bergejolak (volatile food) seperti cabai dan beras, serta harga yang diatur pemerintah (administered prices) seperti BBM dan tarif angkutan.

Apa yang menyebabkan deflasi?

Deflasi terjadi ketika harga rata-rata turun, baik karena pasokan berlimpah maupun karena permintaan melemah. Penyebab pertama relatif tidak berbahaya; penyebab kedua perlu diwaspadai.

Penyebabnya antara lain panen raya, turunnya harga energi atau komoditas global, teknologi yang memangkas biaya, kebijakan moneter terlalu ketat, dan melemahnya daya beli. Indonesia pernah mengalami deflasi bulanan lima bulan berturut-turut sepanjang Mei hingga September 2024, dengan deflasi September 2024 sebesar 0,12% (mtm). Bank Indonesia mencatat penurunan itu terutama berasal dari kelompok harga pangan bergejolak seiring musim panen. Secara tahunan, inflasi IHK 2024 tetap positif, yaitu 1,57%.

Bagaimana inflasi diukur di Indonesia?

Inflasi resmi Indonesia diukur BPS dari perubahan IHK, sedangkan Bank Indonesia menggunakan angka itu untuk menilai pencapaian sasaran inflasi. Data dirilis setiap awal bulan.

Sejak Januari 2024, BPS menghitung IHK dengan tahun dasar 2022=100 yang mencakup 150 kabupaten/kota, berdasarkan Survei Biaya Hidup 2022 (publikasi BPS). Angka yang paling sering dikutip adalah inflasi tahunan (year-on-year).

Sasaran inflasi ditetapkan pemerintah melalui PMK Nomor 31 Tahun 2024, yaitu 2,5% dengan deviasi 1% untuk tahun 2025, 2026, dan 2027, diukur dari inflasi IHK tahunan pada akhir tahun. Sebagai gambaran, data Bank Indonesia mencatat inflasi IHK tahunan Agustus 2026 sebesar 3,19%, masih di dalam kisaran sasaran 1,5% hingga 3,5%. Sebelumnya, Februari 2026 sempat mencapai 4,76%, di atas batas atas kisaran itu.

Apa dampak inflasi dan deflasi terhadap bisnis?

Inflasi menekan margin dan modal kerja, sedangkan deflasi menekan pendapatan dan memperberat beban utang. Dampaknya terasa pada harga jual, upah, persediaan, dan pembiayaan.

  • Penetapan harga. Biaya input sering naik lebih cepat daripada harga kontrak; klausul penyesuaian harga membantu menjaga margin.
  • Upah. Formula upah minimum mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan indeks tertentu, sebagaimana diatur dalam peraturan pengupahan. Anggaran tenaga kerja perlu memperhitungkan inflasi daerah.
  • Persediaan. Untuk keperluan pajak, UU PPh hanya mengizinkan penilaian persediaan dengan metode rata-rata atau masuk pertama keluar pertama (FIFO). Ketika harga naik, FIFO menghasilkan harga pokok lebih rendah dan laba kena pajak lebih tinggi dibandingkan rata-rata.
  • Pembiayaan. Inflasi tinggi biasanya diikuti suku bunga lebih tinggi; dalam deflasi, nilai riil utang bertambah berat.
  • Pajak tidak langsung. Kenaikan harga jual otomatis memperbesar dasar pengenaan PPN dalam rupiah. Penjelasan dasarnya ada di artikel apa itu PPN.

Bagi usaha ekspor-impor, harga global dan nilai tukar sama pentingnya; lihat peran Indonesia dalam organisasi perdagangan internasional dan, untuk sisi ritel, ulasan toko serba ada.

Langkah praktis apa yang bisa dilakukan tim keuangan?

Tim keuangan sebaiknya memantau rilis IHK bulanan, menguji sensitivitas anggaran, serta meninjau kontrak dan persediaan secara berkala.

  1. Pantau rilis inflasi BPS dan Bank Indonesia setiap awal bulan, termasuk inflasi di kota tempat Anda beroperasi.
  2. Susun anggaran dengan dua atau tiga skenario inflasi, bukan satu angka.
  3. Tinjau kontrak penjualan dan pembelian: adakah klausul penyesuaian harga atau indeksasi?
  4. Evaluasi metode persediaan dan dampaknya terhadap laba komersial maupun fiskal.
  5. Kelola komposisi utang berbunga tetap dan mengambang sesuai arah suku bunga.

Perubahan harga juga berimbas pada pajak, dari harga pokok penjualan hingga PPN dan PPh Pasal 21. Untuk memastikan dampaknya tercermin benar dalam pembukuan dan SPT, layanan kepatuhan pajak dan kesiapan pemeriksaan JCSS Indonesia dapat membantu meninjaunya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu inflasi?

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Kenaikan harga satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi kecuali meluas ke barang lain. Di Indonesia, inflasi diukur Badan Pusat Statistik dari perubahan Indeks Harga Konsumen dan diumumkan setiap awal bulan.

Apa itu deflasi?

Deflasi adalah penurunan harga barang dan jasa secara umum, kebalikan dari inflasi. Deflasi bisa terjadi karena pasokan berlimpah, misalnya saat panen raya, atau karena permintaan melemah. Deflasi sesaat akibat pasokan relatif tidak berbahaya, tetapi deflasi berkepanjangan karena lemahnya daya beli dapat menekan penjualan, investasi, dan lapangan kerja.

Berapa sasaran inflasi Indonesia saat ini?

Pemerintah menetapkan sasaran inflasi 2,5% dengan deviasi 1% untuk tahun 2025, 2026, dan 2027 melalui PMK Nomor 31 Tahun 2024. Artinya, inflasi IHK tahunan pada akhir tahun diharapkan berada di kisaran 1,5% hingga 3,5%. Bank Indonesia menggunakan sasaran ini sebagai acuan dalam menetapkan kebijakan moneter.

Apa perbedaan inflasi inti dan inflasi harga bergejolak?

Inflasi inti mencerminkan tekanan harga yang lebih menetap, dipengaruhi permintaan, ekspektasi, dan nilai tukar. Inflasi harga bergejolak (volatile food) berasal dari bahan pangan seperti cabai dan beras yang harganya naik-turun mengikuti musim dan pasokan. Komponen ketiga adalah harga yang diatur pemerintah, seperti BBM dan tarif angkutan.

Apakah deflasi pernah terjadi di Indonesia?

Ya. Indonesia mencatat deflasi bulanan lima bulan berturut-turut pada Mei hingga September 2024, dengan deflasi September 2024 sebesar 0,12% secara bulanan. Menurut Bank Indonesia, deflasi September itu terutama berasal dari harga pangan bergejolak seiring musim panen. Meski begitu, inflasi IHK tahunan 2024 tetap positif, yaitu 1,57%.

Bagaimana inflasi memengaruhi pajak perusahaan?

Inflasi memengaruhi pajak melalui beberapa jalur. Harga jual yang naik memperbesar dasar PPN dalam rupiah, kenaikan gaji memengaruhi PPh Pasal 21, dan metode penilaian persediaan menentukan harga pokok serta laba kena pajak. Untuk tujuan pajak, UU PPh hanya mengizinkan metode rata-rata atau FIFO.

Informasi umum, bukan nasihat hukum atau pajak atas fakta spesifik Anda. Regulasi dapat berubah; konfirmasi posisi terkini dengan JCSS Indonesia sebelum bertindak.

Get started

Ready to talk Indonesia compliance?

Partner-led response within one business day. NDA available on request.

Book a Consultation